Logo Design - Green Living

Salah satu keunggulan produk Rumah Djawa (perusahaan di mana saya pernah bekerja dulu) adalah produk yang eco-friendly. Ini semua dibuktikan dengan beberapa sertifikasi yang sudah pernah didapatnya. Sertifikasi tersebut diberikan karena material kayu yang dipergunakan trace-able, dalam arti bisa dilacak dari pohon di hutan yang mana. Dan pada pohon yang ditebang itulah, ditanam bibit pohon baru.

Yes, itu semua bisa ditrace. Ada software khusus yang dikembangkan untuk itu, bahkan sudah dionline-kan dalam sebuah website yang bisa diakses oleh siapa pun. Cuma nggak tahu deh, setelah saya resign kayaknya webnya nggak terurus lagi :( *jadi sedih*

Anyway, saya nggak akan bahas mengenai konservasinya. Tapi saya mau bahas salah satu logo yang saya kerjakan dalam hubungannya dengan eco-friendly products ini.

Ada banyak logo yang saya bikin waktu itu, semuanya untuk penggunaan yang berbeda-beda.

Logo "Green Living" yang ini *kalau nggak salah ingat* akan dipergunakan di divisi interior dan arsitekturnya. Untuk menandai bahwa furniture yang mereka produksi ramah lingkungan. Jadi bukan produk furniture ekspornya, tapi di interior lokal. Iya, kalau nggak salah ingat. Karena seingat saya lagi, logo ini nggak jadi dipakai juga akhirnya. Karena apa ya? Lupa. :))  Dih, udah agak lama sih saya bikinnya ini. Bener-bener lupa deh. :D

Nah, awalnya *tentunya setelah brainstorming sama bos* saya corat coret aja untuk menemukan komposisi logo yang pas. Waktu itu pokoknya saya mengajukan konsep utamanya adalah tunas daun. Dominasi warnanya hijau tentu saja.

So, jadilah enam alternatif desain seperti ini. Iya, dulu saya pernah bisa langsung corat coret di corel. Sekarang? :)) entah ke mana skill saya itu. Kalau nggak digambar dulu di kertas nggak bisa nggaris XD
6 alternatif desain logo Green Living

Nah, dari keenam alternatif tersebut, bos saya memilih logo terbawah, tapi antara yang kanan dan kiri masih harus saya ulik. Saya olah lagi untuk menemukan komposisinya yang paling pas.

Begini hasil ulikan keduanya.

Alternatif logo Green Living  revisi 1

Kemudian, akhirnya alternatif desainnya menyusut jadi tiga di bawah ini aja.

3 alternatif desain logo Green Living revisi 2

Dan yang di-ACC adalah logo yang ini.
Logo Green Living Final

Ya, kalau jadi in-house designer emang biasanya jadi banyak bikin alternative design sebelum akhirnya disetujui :lol: Efek digaji bulanan kali ya. Hahaha.

Iya, sayangnya logo ini nggak sempet kepake. Nggak tahu deh kenapa. Lupa saya.

Portfolio lain bisa dilihat di sini ya. Kalau ada yang butuh desain corporate identity, term and condition bisa dilihat di sebelah sini :)

Sampai ketemu di portfolio selanjutnya! ^^

[Tutorial] Membuat Watermark pada Foto dengan Photoshop



Ada beberapa cara untuk mencegah pencurian terhadap materi online kita, di antaranya adalah dengan membubuhkan watermark di atas foto yang akan kita upload.

Kali ini saya akan kasih lihat caranya membuat watermark pada foto dengan menggunakan Photoshop, meski sudah banyak tools instan online gratisan bertebaran di internet. Nanti lain waktu, saya akan kasih lihat cara bikin watermark dengan tools instan itu satu per satu. Hal ini karena saya anggap, Photoshop adalah dasar dari semua tools editing foto.

Sebelumnya, saya sarankan untuk lebih dulu punya logo atau apapun yang akan ditempelkan sebagai watermark dalam bentuk PSD/PNG transparan. Artinya transparan, yaa kalo dibuka di Photoshop, itu backgroundnya kotak-kotak. Semacam yang dilihat di sini ini. Nggak harus logo juga sih. Kalau belum pernah punya logo, bisa juga pakai tulisan biasa yang langsung ditulis di TKP. Tapi sebenarnya kalau udah punya logo atau apa pun yang sudah dalam bentuk PNG transparan kayak gini, kita jadi lebih cepat nambahinnya.



Selanjutnya buka file yang ingin ditempelin watermark.



Nah, tinggal drag and drop deh itu logo yang ber bekgron transparan ke dalam foto yang dituju. Caranya dengan tool "move" *itu yang tanda anak panah yang di toolbar sebelah kiri*, terus drag logo ke arah fotonya.



Masih dengan tool "move", resize logo hingga seukuran yang sesuai dan yang diinginkan. Caranya ya tinggal di klik dan drag aja sudutnya. Jangan lupa nge-drag nya sambil mencet tombol shift ya. Biar tetep proporsional :)


Terus, masih dengan tool "move" posisikan di tempat yang diinginkan. Trus klik kanan pada layer logo > Blending Options.

Pada Blending Options ini kita bisa menambahkan efek drop shadow atau efek bevel pada logo.. dipake dua-duanya juga boleh. Saya biasanya pake dua-duanya buat yang logo pribadi.

Yang di atas itu drop shadow, opacity, angle, distance, spread dan size nya bisa diatur sesuai keinginan. Monggo dicoba-coba saja.

Yang di atas adalah pilihan bevel dan emboss. Ini untuk menampilkan efek timbul gitu pada logo. Monggo dicoba-coba untuk diliat efeknya :D ga usah takut salah. Semuanya bisa dikembalikan ke awal lewat panel history :D
Kalo sudah, kita sekarang ke bagian opacity untuk bikin efek watermark-nya.

Tuh, udah jadi watermark-nya :D Gampang kan?


Sampai ketemu lagi di tutorial berikutnya :)

Cover Buku Rita Subowo

Beberapa waktu yang lalu, saya dimintain tolong untuk mendesainkan sebuah cover buku biografi. Nggak terlalu ekstrim sih permintaannya, cuma harus ada beberapa foto si tokoh.

Karena penasaran, dan supaya lebih masuk ke dalam tokoh yang dibukukan, maka saya pun googling.

Rita Subowo ini ternyata adalah Ketua Umum KONI Pusat 2007 - 2011. Nah, baru tahu kan? Atau saya aja yang kudet sama negara ini? :)) Ya, beliau merupakan ketua KONI pertama perempuan sepanjang sejarah Indonesia. Hebat ya? Well, saya sih nggak akan nulis bio beliau di sini :)) Silakan googling saja, kalau penasaran lebih lanjut. Hanya, menarik juga sih sebagai tambahan wawasan. Iya nggak? ;)

Nah, buku yang sedang saya desain ini lebih menyoroti mengenai kiprah Rita Subowo dalam mengembangkan olah raga bola voli pantai. Jadi seharusnya, desainnya nggak jauh-jauh amat dari bola voli, dan tentu saja pasir pantai.

Setelah semedi beberapa lama, saya pun punya dua alternatif desain sebagai berikut.


Alternatif 1


Alternatif 2

Dari kedua alternatif tersebut, klien memilih desain alternatif 2. Beberapa masukannya adalah bola voli yang minta lebih dispesifikasikan ke bola voli pantai. Baiklah, bola voli pantai itu yang kayak apa ya?  :)) Oh, ternyata warnanya aja yang beda. Kuning-biru-putih gitu deh. Checked.

Masukan kedua adalah tulisan blurb yang terbias sama tekstur pasir pantai. Oke, berarti harus lebih 'diangkat' warnanya. Logo NPMAS dan no hp yang tadinya minta dicantumkan ternyata diminta untuk dihapus saja. Diganti dengan logo KONI. Baiklah. Checked.

Maka, setelah saya lakukan revisi, jadilah desain sebagai berikut.

 Revisi 1

Tapi ternyata, logo KONI juga minta dihapus aja. Eaaaa :lol: Baiklaaaah, namanya juga klien. Iya nggak? :lol: Maka, inilah desain terakhir yang di-ACC.

 Desain Cover Buku Final

Well, semoga desain cover bisa benar mewakili isi buku ya :D

Sampai ketemua lagi di postingan portfolio lainnya!

My Artwork Mejeng di #AYCARestart

Berawal dari melihat pengumuman ini melintas di linimasa saya, kayaknya waktu itu berasal dari akun @sketsa_ku.




Dan karena syarat yang nggak belibet, dan kebetulan saya punya beberapa 'simpenan' doodle, maka saya pun dengan nggak tahu diri mengirimkan beberapa karya doodle saya. Saya udah bilang dalam status dan wanti-wanti pada diri sendiri, kans menang sama dengan nol. Tapi saya pengin nyoba sesuatu yang baru, karena terus terang saya lagi jenuh pol dengan rutinitas saya sekarang ini. Jadi, dengan nekat saya mengirimkan beberapa karya.


Saya berusaha bikin beberapa karya baru juga sih. Tapi ternyata nggak bisa sebanyak yang saya inginkan. Hehehe...

Dan kemudian, malam-malam, kalo nggak salah Minggu malam, saya tiba-tiba difollow oleh @eatthatart, akun ofisial penyelenggara #AYCARestart, lalu dikirimin DM meminta kontak pribadi. Via japri akhirnya saya dikasih kabar kalau salah satu karya saya lolos kurasi untuk dipamerkan dalam Online Doodle Exhibition #AYCARestart tersebut. Yang ini, yang lolos.



Both Sides of Every You and Me: Sadness and Happiness
Dan saya pun melonjak-lonjak senang malam itu. Kebetulan saya punya file scannya yang langsung saya kirimkan pada panitia via email. Saya sebenernya kembali nggak pede pas kirim file hasil scan tersebut. Karena kalo diliat-liat bagusan di foto ketimbang hasil scan :lol: Beneran deh, kayaknya tertolong pencahayaan apa gimana. Heuuuuu... level pede kembali ngedrop, pemirsa. Tapi beberapa hari kemudian, officially muncul pengumuman ini.


Aaaakkk.. Ternyata saya beneran lolos kurasi yaaa :)) Masih ga percaya.

Konon katanya, ada 200-an karya yang terkirim ke panitia, dan hanya 15 yang lolos kurasi. Wow, saya termasuk dalam 15 itu.
Lalu tanggal 9 Januari 2015 kemarin, saya menyempatkan diri datang ke Roots Cafe. Sayang saya nggak kerasan :lol: Bener-bener bukan tempatnya saya. Nggak ada yang saya kenal juga, karena saya datang ke sana sendirian. Kayak anak ilang bener deh :( Jadi saya cuma 10 menit aja bertahan, lalu pulang. Saya nggak bisa nemu karya saya pun :(
Sorenya saya pantengin twitter @eatthatart, lalu saya lihat karya-karya yang lolos kurasi dipajang. Ini beberapa di antaranya.

Karya: dari Magelang. Berjudul; Zentangle Art.

Karya: dari Surabaya. Berjudul: The Trembling Hands.
Karya: dari Jember Berjudul: Explore Art Creation
Dan lalu ada karya saya melintas juga.


AAAAKKK!! *masih saja histeris*

Tapi kebayang kan, mindernya saya kalo dibandingin sama doodle-doodle yang lain T__T


Anyway, dari 15 karya lolos kurasi, akan ada 4 karya yang terpilih lagi. Ada hadiah kecil untuk 4 karya terpilih ini. Sayang sih, saya nggak dapat. Tapi beugh, lolos dan lalu dipajang untuk dinikmati banyak orang pun udah bikin saya bahagia banget :D secara saya baru mulai doodling beneran beberapa bulan terakhir ini. Entahlah, mungkin baru 2 atau 3 bulan. Masih banyak waktu buat saya untuk meningkatkan kualitas. Iya kan? :)

Terima kasih, All You Can Art @eatthatart! Senang bisa berpartisipasi :D Semoga event yang next bisa ikutan lagi dan lebih baik lagi!

Sketsa-sketsa dalam Buku Sarapan Pagi Penuh Dusta



Kamu suka baca buku sastra nggak? :)

Saya adalah penggemar buku sastra, terutama yang lawas dan langka dari para sastrawan besar negeri ini. Adalah mimpi saya untuk bisa berkolaborasi dengan mereka ini, nggak tahu dalam bentuk apa. Atau mungkin sekadar ketemu? Barangkali, suatu hari saya bisa mewujudkannya.

Kemudian, ternyata datanglah kesempatan itu.

Sekitar bulan September 2015 yang lalu, saya mendapatkan inbox via Facebook. Dari Mas Eka Pojok Cerpen. Yang sering berburu buku-buku lawasan dan langka, pasti sudah tahu sama Pojok Cerpen :D Kalau belum ya, silakan kenalan deh hehehe.

Intinya, Mas Eka bilang sudah lama memperhatikan sketsa-sketsa yang sudah pernah saya hasilkan. Dari situ, saya malah kaget. Saya pikir, Mas Eka nggak pernah nge-like ataupun ngomen pada gambar-gambar yang sudah saya upload. Tapi ternyata, apresiasinya langsung via japri. It means a lot, and I mean a lot! Bukan mengecilkan peran teman-teman yang sudah ngelike, ngeshare dan ngomen lho ya. Tidak sama sekali. Diapresiasi dalam bentuk apa pun saya bersyukur, karena semua saya lakukan tanpa beban, tanpa target, dan dengan senang hati. Bahkan kalaupun dicaci maki, saya juga nggak peduli kok hahaha :)) Ya, kasarannya gitu.

Pada intinya, saya diundang untuk ikut memeriahkan buku kumpulan cerpen Puthut EA yang akan diterbitkan ulang.

Wait a minute!

Puthut EA?

Puthut EA, YANG ITU? That Puthut EA?

Iya, Puthut EA yang itu. :lol: Tentang siapa Puthut EA, silakan googling aja ya. Heuheu.

Kembali ke topik.

Jadi dalam rangka memeriahkan buku Puthut EA itu, Mas Eka meminta saya untuk berkreasi sebebas-bebasnya dengan pensil dan kertas sketsa saya. Kemungkinan, kalau cocok, sketsa saya bisa saja diadopsi menjadi ilustrasi untuk cover :)

Saya, tentu saja, menyanggupi. Yamasa nolak?

Singkat cerita, saya mulai sket-sket. Sebelumnya saya di-deadline bulan Oktober untuk cover alternatif 4 buku. Jadi, dengan itungan 2 alternatif untuk masing-masing buku, berarti saya harus menyelesaikan 8 alternatif sketsa dalam waktu lebih kurang 2 minggu.

Beberapa hari kemudian, saya dapat kabar. Bahwa ternyata untuk cover, seorang seniman lukis bersedia menyumbangkan ilustrasinya untuk menjadi 'wajah' buku tersebut. Tapi Mas Eka tetap memerlukan sketsa-sketsa saya untuk menjadi ilustrasi bagian dalam buku.

Buat saya sih, itu sama saja. Mau di muka, mau di badan. Yang penting saya bisa nitip sketsa di buku orang, sastrawan lagi. :lol:

Ternyata (lagi), ada sekitar 15 sketsa saya sudah dipilih untuk dimasukkan ke dalam buku kumpulan cerpen "Sarapan Pagi Penuh Dusta". Semua sketsa tersebut pernah saya upload di Instagram. Sebagian sudah ada ruhnya, karena kadang saya nulis flashfiction dulu baru kemudian menggambar sketsanya. Sedangkan beberapa yang lain, saya nggambar sketsa dulu baru kemudian saya bikin flashfiction-nya.

Saya cukup surprise dengan sketsa-sketsa yang sudah dipilih itu, karena itu sketsa saya gambar atas imajinasi saya sendiri lalu, apa iya cocok dengan cerpen yang sudah ditulis oleh Puthut EA? Semacam pertanyaan besar muncul di otak saya. Tapi, memang cuma saya batin aja sih :lol: Aslinya, ya saya kasih semua sketsa yang sudah dipilih itu :lol:

Tunggu punya tunggu ...

Tiba-tiba saya di-mention beberapa hari yang lalu.

O.M.G. Buku kumpulan cerpen "Sarapan Pagi Penuh Dusta" sudah terbit, dengan 15 sketsa saya di dalamnya. Dan, pertanyaan besar saya masih belum terjawab. Apa iya, cocok itu antara sketsa saya dengan cerpen-cerpennya Puthut EA? Sumpah, barangkali menunggu sedikit lagi lebih lama saya bisa mati penasaran :))



Keesokan harinya, ... jengjengjeng! Buku kumpulan cerpen "Sarapan Pagi Penuh Dusta" ini sampai di pelukan saya. Dengan nepsong, saya segera buka segelnya agar semua pertanyaan saya terjawab.

Dan apakah terjawab? :D



Kamu yang akan menjawabnya, teman-teman. Coba pesan buku ini, lalu coba kasih saya pendapat kamu. Apakah sketsa dan isi cerpennya bisa sejalan?



Sesungguhnya, saya masih nggak percaya. Bagaimana bisa cerpen dan sketsa yang dibuat sendiri-sendiri bisa memadu seperti ini. Ada sensasi baru yang lahir, dan rasanya .... luar biasa!

Terima kasih, atas kesempatan dan apresiasi yang luar biasa ini :) *menjura*

Kamu yang suka perpaduan antara seni sastra dan seni rupa, utamanya sketsa absurd, barangkali kamu akan suka buku sastra yang satu ini :) Juga sudah ada di Togamas Yogyakarta, kalau di kota lain saya belum tahu :lol:

Atau barangkali kamu bisa pesan langsung di Pojok Cerpen :)

Lianny's Business Card



"Mak, bisa tolong desainin kartu nama?"

Itulah kalimat yang ditanyakan oleh Mak Lianny Hendrawati pada saya via personal message beberapa waktu yang lalu. Terus terang, saya sudah lumayan lama nggak ngulik desain kartu nama lagi. Angan-angan saya untuk bisa membantu teman-teman "memasarkan diri" dengan grafis pun pelan-pelan juga sudah terkubur.

Kenapa?

Karena apresiasi terhadap marketing kits semakin memburam. Orang sudah semakin meremehkan "kekuatan" sebuah marketing kits dan personal branding kits.

Ah, bikin logo? Gampang! Banyak yang gratis di internet, banyak yang bisa bikinin. Cuma 2 x 2 cm ini. Murah! Atau, cetak kartu nama? Ah, gampang! Banyak template gratisan tuh. Tinggal unduh, terus cetak. Cetaknya juga murce bingits. Kayak yang kemarin rame melintas :D Saya juga dapat tawaran, tapi dengan disertai permintaan maaf, saya harus tolak :)

Anyway, cerita tentang yang itu nanti sajalah ya. Saya cuma mau cerita tentang kartu nama Mak Li :)

Saya yang sudah telanjur desperate soal bisnis desain grafis agak-agak surprise, bahwa ada yang minta bantuan untuk dibikinin kartu nama seperti ini lagi :) Secara berseloroh, saya tanyakan ke Mak Li, kok nggak ke web yang onoh noh, kan murah. Mak Li nggak menjawab pertanyaan saya, tapi malah balik nanya, MakCar emang sudah nggak bikin kartu nama lagi?

Saya jawab, masih sih. Tapi di saya mahal, Mak.

Tapi ternyata MakLi masih mau keukeuh saya bikinin. Hehehe. Terima kasih, Mak Li, atas kepercayaannya yah *ketjup-ketjup*

Nggak terlalu banyak permintaan Mak Li ini, hanya saja pengin supaya kartu namanya dominan berwarna biru, dan ada image vector mama blogger seperti yang ada di header blognya. Maka, dengan cepat pula saya mengulik desain eksklusif Mak Li menjadi 3 alternatif desain berikut.




Dari ketiga alternatif di atas, Mak Li suka alternatif 3 tapi katanya terlalu rame. Hihihi. Jadi mending pilih alternatif 2, katanya. Tapi Mak Li minta warna birunya lebih diterangin lagi, dan ditambah pernak pernik bunga seperti di alternatif 1.

Baiklah. Dan inilah alternatif 2 setelah direvisi.




Mak Li langsung oke pas lihat hasil revisi di atas. Jadi kemudian, tugas saya adalah mencetakkan kartu nama untuk Mak Li.

Spesifikasi kertasnya, kertas BW 280 gr (yep, lebih tebel dari yang biasanya) dan saya minta laminasi doff, supaya waterproof. Waterproof di sini bukan berarti kalau dicelupin ke air nggak basah loh ya. Tetep basah kalau gitu mah :lol: Tapi waterproof-nya adalah kalau ketetesan air tintanya nggak luntur :) Selain supaya waterproof, laminating ini juga membuat kartu nama lebih 'kaku', sehingga kalau dimasukkan ke dalam card holder gitu juga nggak gampang lecek.

Dua hari kemudian, kartu nama Mak Li pun sudah saya kirimkan pada empunya. :)

Semoga suka ya, Mak Li. Maaf, ga sempet foto barang jadinya hahaha. Buru-buru dikirim, soalnya Mak Li mau segera pakai :)

Semoga juga kualitasnya cukup memuaskan ya :)

Febriyan Lukito's Business Card

Saat Mas Febriyan Lukito ngeliat kartu nama yang saya bikin buat Mak Lianny kemarin, Mas Ryan serta merta meminta tolong saya untuk membuatkan desain kartu nama yang pas untuknya.

Sebelumnya saya agak jarang bikinin kartu nama buat cowok :D Jadi, iya, terus terang saya agak gelagapan karena kurangnya referensi. Nggak mungkin kayaknya Mas Ryan saya kasih desain bunga-bungaan dan segala macam borderline yang centil-centil koleksi saya. Maka dengan sedikit memakan waktu, saya pun mencari referensi kartu nama yang maskulin dan terlihat profesional. Saya sih pengin menawarkan beberapa alternatif yang nggak  monokrom, tapi apa daya kok mata saya selalu tertarik ke kartu nama simpel monokrom. Kalau nggak item putih, ya paling abu-abu. Weh. Susah juga ya ternyata. Heuheu.

Setelah semedi, saya akhirnya bisa punya tiga alternatif ini. Dengan berharap bisa memenuhi permintaan Mas Ryan yang nggak neko-neko, saya pun mengirimkan ketiganya untuk direview.





Ternyata Mas Ryan suka sama desain kedua. Itu tuh, yang dibagi dua kanan kiri item putih. Mas Ryan sempat meminta untuk menambahkan dua blog lagi (bener-bener ternak blog ini si mamase :lol: ), saya lalu kembali menawarkan dua alternatif berikut ini.



Dan, inilah hasil akhir desain kartu nama untuk Mas Febriyan Lukito.



Iya, kalau dilihat lebih saksama, itu bagian yang hitam nggak polos tapi bertekstur kayu. Biar nggak monotonlah maksudnya :)

Semoga Mas Ryan puas dengan hasilnya dan juga service-nya ya :D

Untuk pemesanan jasa desain grafis, term & condition bisa dilihat di sebelah sini.

Logo Design - Djawa



Sebuah logo biasanya mencerminkan identitas perusahaan. Ya eyalahhh. Yang pertama kali diulik dalam sebuah proses corporate identity pastilah logo duluan. Alasannya? Ya, karena logo itu identity paling basic deh. Mau bikin kartu nama, ada logo, mau bikin kertas kop surat, ada logo dong, mau bikin media promosi, yaaa musti ada logo juga.

Salah satu proyek ngulik logo saya adalah logo Djawa ini.


Logo yang lama
Kata ssng Owner, logo ini terlalu berat, karena 1. warna goldennya, 2. efek 3D nya.

Hmmm.
Terus beliau menjelaskan beberapa alasan dan filosofi mengapa logo tersebut terlalu “berat”, yang saya pun, terus terang, nggak mudeng juga. Yah, pokoknya intinya, harus diubah. Lebih light tapi catchy. Kurang lebih begitu deh.

… so saya pun mulai ngedesain …

Sebelumnya beliau juga kasih masukan sedikit buat saya, bahwa desainnya kurang lebih musti mengadopsi bentuk atap rumah joglo. Khas, dan karena memang kantor kami sebagian besar terdiri atas joglo-joglo klasik. Jadi ya, daripada terlalu pusing, mending itu aja yang dijadiin identitas.

Baeklah, Boss. Jadi akhirnya saya bikin beberapa alternatif.




Yang di atas itu adalah studi bentuk atap rumah joglo yang mau saya ambil sebagai main part. Setelah ketemu mana yang terasa paling oke, lanjut ke tahap berikutnya yaitu brainstorming logo.



Sampai di sini, desain-desain ini saya ajukan ke juragan untuk di review. Dan yang terpilih adalaaaaaaahhh… *jengjeng* yang INI!!!


Kalo udah ada approval begini, saya lantas membuat berbagai alternatif kenampakannya jika diaplikasikan di berbagai media.


So, logo itulah yang dipakai hingga sekarang. Simpel, gampang diaplikasikan di media apapun… ditrace ulang pun juga gampang, dan langsung terbaca, D-j-a-w-a.

Buat saya sih kriteria logo yang bagus ya yang memenuhi syarat tersebut. Terutamanya gampang di-trace. Karena saya pribadi sangat amat sangat pusing kalo nemu logo orang, ada unsur grunge nya, ada shadow yang terlalu besar feather-nya, udah gitu fontnya juga nggak jelas, plus susah di-trace ulang. Wew!

Demikianlah proses metamorfosisi logo Djawa.

All images are courtesy of Djawa

Fotografi: Color Development Detail Shoot

Salah satu jenis fotografi interior yang dulu sering saya lakukan adalah memotret warna hasil development baru dari divisi design and development.

Dalam satu tahun setidaknya selalu ada satu kali musim pengembangan produk, biasanya sih kalau menjelang pameran besar di Jakarta. Ya, namanya juga dagang yah. Harus selalu berinovasi. Kalau nggak menemukan material baru, ya berarti kita harus mikirin finishing baru.

Salah satunya ya kita harus bisa menemukan/membuat trend warna baru.

Kayak yang ini, sebenernya sih masih sama finishing kayunya. Natural, tapi ada sentuhan putihnya, sentuhan hitamnya,

Sesi pemotretannya masih dilakukan di studio, dengan dua lighting di kanan dan kiri. Background putih saja. Dan jangan lupa DSLR :)

Inilah beberapa di antara color development detail shoots yang sudah saya lakukan.

Graywash Color Detail

Battleship Graywash Color Detail

Mitzy Color Detail

Taupe Color Detail

What I like about motret detail, adalah saat kita mengira-ngira angle yang terbaik, lalu memikirkan dekorasi apa yang cocok dan membuat fokus foto kita bisa terangkat.

Misalnya di foto terakhir. Saya pakai peralatan minum teh yang terbuat dari keramik berwarna putih berglasir. Untuk membuat kontras dengan permukaan meja yang menjadi objek foto, yang bertekstur khas kayu, dengan semburat hitam di antara cokelat gelap.

Gitu dulu yah.
Makasih sudah simak :)
Sampai ketemu lagi di portofolio foto interior berikutnya :)

Rumah Tropika's Tropical Leaflet

Salah satu line produk di Rumah Tropika *kantor tempat saya kerja dulu* adalah bathroom accessories. Meliputi semua produk yang melengkapi kamar mandi, dari mulai cotton bud holder, soap dish hingga ke washbasin dan bathtub.

Spesialisasinya adalah pada material-material stone, termasuk marble, terazzo dan batu alam lain. Tapi bukan batu akik ya. #eh :P

Lini produk bathroom accessories ini dinamai Tropical, karena memang yah, akan membawa suasana tropikal ke dalam kamar mandi. Cocok banget buat proyek-proyek hotel dan juga rumah pribadi deh.

Nah, untuk keperluan promosi, memang sudah kebiasaan si bos untuk membuatkan satu macam leaflet untuk satu lini produk.

So, here I came out with.

Courtesy of Rumah Tropika

Not bad huh?
Ya, menurut saya sih lumayan :)))

Sampai ketemu lagi di karya berikutnya.

Ilustrasi: Fiksimini Dahsyat dari para Fiksimini-ers

Salah satu sumber ide sketsa buat saya adalah fiksimini-fiksimini yang bertebaran di linimasa dari teman-teman fiksiminier dan dari akun @fiksimini.

Beberapa memang sangat memacu imajinasi hingga sayang banget kalau dilewatkan :D
Ini beberapa di antaranya.

Dengan lembut, Hawa membelai ular itu. Sambil berdesis, dia merinding ketakutan melihat api unggun.
@teddysnur

Seminggu setelah bercerai, ocehan khas dari mantan istrinya masih terdengar jelas.
Dari sebuah stoples di dapur.
@RNBKL

HUJAN TAK KUNJUNG REDA. Tuhan patah hati.
@meldalova

LAGU SEDIH. Nadanya terbuat dari air mata.
@Harry_Bawole

MIMPI INDAH. Ketika bangun, sekuntum bunga tumbuh di kepalaku.
@Enrouz

NOVEL MISTERI. Gemetar. Di halaman tengah, korban ditemukan. Tapi, ada selembar kertas: KAMU BERIKUTNYA.
@JvTino

Kadang memang ada sih fiksimini yang bagus, tapi kok susah divisualisasikan ya. Hehehe. Kalau ditanya fiksimini kayak apa yang bisa divisualisasikan, saya juga nggak bisa jelasin. Haha.

Sudah agak lama sih sejak fiksimini terakhir saya visualisasikan. Semoga bisa nambah lagi yahh.
*stalking akun @fiksimini*